Place your text ads here
Powered by MaxBlogPress 
arsitektur.us

Dirgahayu kota Jakarta ke-483

Dirgahayu kota jakarta, 22 Juni 2010 ke -483 !! Terlepas dari berjuta permasalahan di kota ini, arsitektur.us ingin kembali mengingatkan kepada kita semua akan para jasa-jasa pendahulu kita. Foto di atas ialah foto Bapak Henk Ngantung atau Hendrik Hermanus Joel Ngantung.

GENERASI muda kini mungkin tak banyak mengenal siapa Henk Ngantang. Padahal bila kita melintas di pusat kota dan pusat demonstrasi di Jakarta, yakni Bundaran Hotel Indonesia (HI), di sana terpancang Tugu Selamat Datang.

Disekitar patung ini ada lima formasi Air Mancur yang dijadiin simbol ideologi Negara Republik Indonesia, Pancasila. Katanya sih ini juga jadi simbol dari tanda memberi salam kepada kota Jakarta sebagai kota Ibu Negara dan Kota Metropolitan dengan formasi ucapan Selamat Pagi, Selamat Siang, Selamat Petang, Selamat Malam dan Selamat Hari Minggu.

Desain awal tugu ini diilhami oleh karya sketsa Henk yang akhirnya dlpatungkan oleh perupa Edhi Sunarso pada tahun 1961. Tugu megah Itu menggambarkan sepasang pria dan wanita melambaikan tangan menyambut orang datang ke Jakarta. Selain seniman Henk memang juga seorang birokrat la menjadi Gubernur DK) pada periode tahun 1964-1965. Ini berarti DKI pernah memiliki gubernur seorang seniman. Henk memang terlahir dengan bakat menggambar yang luar biasa. Berdarah Sulawesi Utara, ia lahir di Bogor. Jawa Barat, pada 1 Maret 1921. dengan nama lengkap Hendrik Hermanus Joel Ngantung.

Sebelum menjadi orang nomor satu di Jakarta, pada tahun 1960 hingga 1964, Henk terpilih menjadi Wakil Gubernur DKI mendampingi Soemarno. Penunjukan Henk sebagai wakil gubernur oleh Presiden Soekarno, mendapat protes dari anggota dewan kota, yang melihat Henk tidak memiliki kualifikasi memegang posisi tersebut. Namun presiden menginginkan seseorang dengan bakat artistik mengambil alih kendali pemerintahan Jakarta.

Tahun 1964, Henk menggantikan Soemarno sebagai gubernur. Soekarno menginginkan Henk membuat Jakarta menjadi kota budaya. Namun Henk tidak dapat memberikan hasil banyak pada periode singkat selama satu tahun. Justru ia lebih banyak memberikan hasil sewaktu menjabat sebagai wakil gubernur, ketika ia merancang beberapa monumen lewat goresan sketsa yang tetap menghiasi kota sampai saat Ini. Goresan sketsanya yang fenomenal di antaranya sketsa Tugu Selamat Datang, sketsa lambang DKI. sketsa lambang Kostrad, dan sketsa tugu Pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng.

Henk merupakan putra seorang pegawai padapemerintah Belanda. Ia dibesarkan dalam tradisi aristrokratis. Henk mendapatkan pendidikan berbahasa Belanda, serta lulus dari sekolah lanjutan tingkat pertama (MULO). Henk mulai melukis pada usia 13 tahun (1934). Pertama kali belajar melukis dari Bossardt dan pelukis Austria. Rudolf Welnghart di Bandung.

Sumber: http://bataviase.co.id/node/163775

If you enjoyed this post, make sure you subscribe to my RSS feed!

Leave a Reply